Jumat, 25 Nov 2016 | 18:42 WIB

Memahami Pentingnya Peran Guru

Oleh : H. Jaziul Fawaid, SQ,. MA
Ketua Kornas Nusantara Mengaji dan Ketua Umum Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta.

 

Pepatah Arab bilang At-thoriqoh ahammu minal maddah wal ustaz ahammu min kullihima. Metode lebih penting dibandingkan materi pelajaran, namun guru jauh lebih penting dibandingkan keduanya.

Dari pepatah tersebut kita semua menjadi sangat paham bahwa peran guru adalah segalanya dalam dunia pendidikan. Tanpa kehadiran seorang guru maka kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya sebuah sistem pendidikan. Tidak perlu jauh-jauh, kita bisa menyaksikan kejadian-kejadian belakangan yang marak terjadi seperti maraknya terorisme, radikalisme misalnya, menurut saya, besar kemungkinan pelakuknya adalah mereka yang belajar agama, dalam hal ini Islam, dengan tanpa guru.

Dalam kitab Ta’limul Muataalim, Syeikh Al-Zarnuji mengatakan bahwa prasyarat yang harus dipenuhi oleh seorang dalam menuntut ilmu terbagai menjadi enam unsur: kecerdasan, kesungguhan, kesabaran, mau berkorban finansial, adanya pentunjuk guru, dan ditempuh dengan waktu yang relatif lama.

Keenam syarat tersebut adalah piranti yang harus dipenuhi oleh seseorang jika ia ingin merengkuh kesuksesan dalam belajar dan dalam pendidikan. Patut untuk dicatat dan digarisbawahi bahwa unsur guru masuk sebagai salah satu prasayarat keusksesan dalam menempuh pendidikan.

Dewasa ini, kita sering mendengar istilah ‘santri google’. Istilah ini sesungguhnya merupakan istilah sindiran yang bernada mengejek kepada siapa saja yang cenderung mencari ilmu dan belajar dengan jalan instan tanpa mencari seorang guru. Beajar di dunia virtual dan dunia maya melalui kanal informasi yang tidak terhitung jumlahnya memang kemudahan zaman digital ini. Namun patut disayangkan bahwa keadaan yang demikian itu malah tidak semakin mendewasakan cara belajar kita, justru sebaliknya semakin membuat perilaku kita menjadi kekanak-kanakan.

Banyak orang pintar baru yang tiba-tiba secara psikologis selalu menempatkan dirinya sebagai orang pintar atau ingin dirinya selalu dianggap pintar. Orang lain, selain dirinya adalah orang bodoh.

Pandangan seperti itu sesungguhnya dewasa ini jamak kita temukan. Tidak sulit untuk mencari manusia-manusia berkrakter sperti ini. Maka tak heran, bila kita dengan mudah menemukan orang dengan sangat terbuka mencaci dan memaki orang lain hanya karena berbeda pandangan saja. Artinya, ada yang hilang dan berlobang dalam sisi kemaunusiannya.

Orang boleh saja pintar setinggi langit, namun jika ia belajar tanpa guru maka sangat mungkin kepintarannya tersebut tidak akan pernah dipupuk serta dibarengi dengan kesantunan akhlak. Maka yang terjadi pada orang-orang yang pintar seperti ini, selalu ingin mendebat siapapun yang berpendangan berbeda dengan dirinya. Rata-rata orang seperti ini, yang belajar tanpa guru, selalu menjadikan orang di luar dirinya dan di luar pemahannya sebagai ‘musuh’ yang harus dilawan dan diperangi agar bisa sejalan dengan yang dia pikirkan dan dia pahami.

Sinergi Kecerdasan
Dunia modern mengenal tiga pembagian utama kecerdasan secara garis besar: Intelektual, Emosional, Spiritual. Dalam menjalani hidup sehari-hari, ketiga kecerdasan tersebut harus berjalan beriringan. Ketiganya juga membutuhkan bimbingan seorang guru. Tanpa guru, bisa dipastikan kita akan tersesat di rimba raya kehidupan.

Namun, persoalannya adalah masih jarang dan semakin langka kita temui orang-orang yang benar-benar mensinergikan tiga aspek kecerdasan tersebut. Yang kerap kita temukan justru profil-profil manusia yang secara pasrsialaitas menerapkan kecerdasan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Jarang kita menemukan orang yang pintar sekaligus berakhlak dan memiliki laku spiritual yang baik. Justru yang ada adalah mereka yang cerdas secara intelektual namun alpa di emosional atau spiritual.

Mereka yang cerdas intelektual dan tumpul emosional akan dengan mudah terbakar amarahnya jika mendapati perbedaan. Tidak dewasa dan cenderung cepat marah. Profil seperti inilah yang belakangan menghiasi media sosial kita. Bahkan kita patu menyaayangkan atau bahkan bersedih melihat seorang anak muda mencaci maki seorang Kiai sepuh, teladan, dan guru bangsa. Kejadian seperti itu, tidak hanya trejadi satu dua kali saja, namun ratusan bahkan ribuan kali terjadi di kehidupan maya maupun nyatan.

Sanad
Ada hal penting yang fundamental dalam tradisi pesantren yang berkaitan dengan guru. Tradisi tersebut adalah tradisi menjaga transmisi keilmuan. Kalangan pesantren menyebutnya sebagai sanad. Sanad atau transmisi keilmuan adalah hal yang penting dan tidak boleh dikesampingkan dalam menuntut ilmu.

Sistem sanad adalah kesinambungan dan ketersambungan ilmu yang sang sedang dipelajari oleh seorang murid. Biasanya seorang murid selalu mencari guru yang memiliki sanad atau transmisi keilmuan yang sambung sampai dengan Nabi Muhammad SAW. Hal itu penting sebagai upaya untuk menjaga “otentitas” ilmu yang sedang dipelajari.

Maka, dalam pandangan saya, dalam momentum peringatan hari guru 2016 ini, yang patut kita jadikan renungan nasional adalah kembali memaknai pentingnya kehadiran guru dalam pendidikan. Memperbaiki pendidikan berarti memperbaiki guru, terutama memperbaiki kualitasnya.

Pemerintah harus memberikan perhatian yang lebih kepada guru. Laksamana Meiji sudah memberikan contoh kongkrit ketika Jepang melalukan Restorasi yang pertama diperbaiki adalah mutu guru. Selamat Hari Guru.

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*