Rabu, 28 Des 2016 | 14:48 WIB

Bersyukur Kepada-Mu

 

Oleh : Siti Nadlifah
(Mahasiswi Fakultas Ushuluddin IIQ jakarta/Penerima Beasiswa Hafiz Berprestasi Nusantara Mengaji)

 

Mengapa sedikit manusia yang bersyukur atas karunia yang telah diberikan Allah untuknya?

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”. (QS. As-Sajdah (32): 9).

Syukur adalah menggunakan anugerah Allah sesuai dengan tujuan penganugerahan itu. Syukur lahir karena kesadaran hati akan adanya nikmat, kemudian mendorong lidah untuk mengucapkan “Alhamdulillah”, selanjutnya mendorong setiap anggota badan untuk melakukan sesuatu yang  sesuai dengan apa yang dimaksudkan atas pemberian anugerah itu (M. Quraish Shihab: Tafsir Al-Mishbah).

Semua yang terjadi di alam semesta ini adalah kehendak Sang Kholiq, menetapkan apa yang terbaik untuk makhluk-Nya. Allah tidak membebani manusia di luar batas kemampuannya. Namun sebaliknya, Dia selalu memberikan berbagai macam kenikmatan agar manusia yakin bahwa Allah selalu ada untuknya, tidak pernah meninggalkannya.

Akan tetapi, manusia sering kali merasa sulit menerima apa yang telah dikehendaki-Nya, mengira Allah tidak adil atas ketetapan-Nya. Manusia begitu mudah melupakan kasih sayang Allah, hanya karena terkadang suatu hal tidak berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. “Mengapa Allah menghendaki demikian?” menjadi tanya yang bernada protes.

Padahal, saat Allah menghendaki seorang hamba untuk terlahir ke dunia, Dia telah menyiapkan segala kebutuhannya, telah menggariskan segala hal yang akan terjadi padanya, telah menyusun secara apik rangkaian kisah perjalanan hidupnya. Dia berikan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk merasakan, kaki untuk melangkah, tangan untuk mendekap, semua ini adalah anugerah dan nikmat yang nyata dari-Nya. Tapi apakah kita pernah kembali ke konsep semula? Yaitu menggunakan semuanya sesuai dengan tujuan pemberian itu.

Dalam Qur’an Surah Al-A’raf Ayat 179, Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”.

Ternyata, begitu banyak manusia yang lupa untuk sejenak bertafakkur tentang pemberian Allah untuknya. Mereka terlena dan hanyut dalam kesenangan semu, melepaskan tanggung jawab atas apa yang telah diamanahkan Allah kepadanya.

Nikmat Transeden

Nikmat yang menjadi transenden dari semua nikmat adalah iman. Sebuah keyakinan yang tertancap dan tertanam dalam hati bahwa Allah-lah yang Haq, Maha Segala, Berkuasa atas semuanya. Adanya iman dalam hati seseorang, itu yang akan menentukan dia bersikap.

Dia akan berusaha untuk menjalankan semua yang Allah perintahkan, karena dia yakin hal itu yang akan mendekatkan dia kepada-Nya. Saat bujukan nafsu datang untuk merayu dan menggoda, dia akan berusaha agar tetap teguh pada pendiriannya, karena dia yakin semua itu hanyalah kebahagiaan fatamorgana.

Oleh karena itu, sangatlah patut bagi kita untuk bersyukur, bahkan wajib karena merupakan perintah Allah SWT, “dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172).

Ya Rabb.. Berikan nikmat syukur untuk kami, jangan Engkau tutup mata hati kami. Karena sesungguhnya rasa syukur itu ada atas kehendak-Mu jua. Izinkan setiap hembusan nafas kami untuk selalu mengingatmu bahwa tiada daya yang kami miliki kecuali karena kemurahan-Mu. Engkau berkuasa untuk memutus urat nadi kami kapanpun yang Engkau mau. Engkau sangat mampu menghukum kami atas kesalahan kami dengan segera. Tapi Engkau tangguhkan itu sampai pada  hari yang tiada dirugikan sedikitpun atas amal di dunia.

Bersyukur mungkin gampang ditampakkan dari mulut, namun perlu waktu untuk hati agar memahami, agar dapat menjaga nikmat itu dengan baik dan mampu mengimplementasikan sesuai dengan tujuan nikmat itu. Semoga kita dapat menjadi hamba yang senantiasa bersyukur. Aamiin

 

Share this:
Tags:

Add Comment

Ut tellus dolor, dapibus eget, elementum vel, cursus eleifend, elit. Aenean auctor wisi et urna. Aliquam erat volutpat. Duis ac turpis. Integer rutrum ante eu lacus. Required fields are marked*